Jumat, 11 Mei 2018

"Menyet Nyet" : Cara Orang Aceh Membully

                          Sumber Gambar
"Menyet nyet" adalah kosa kata bahasa Aceh yang sering kita dengar dalam pembicaraan sehari hari, khususnya di daerah Barat Selatan Aceh. Saat ini, belum ada kata yang tepat sebagai terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
"Menyet-nyet" beda dengan "ulok" atau lelucon, karena lebih kebentuk humor dengan sindiran halus yang berulang karena kesalahan lisan atau perbuatan yang dilakukan subjek.
Menyet-nyet terkadang menjadi sebuah sifat yang terbentuk dengan sendirinya dalam pergaulan sosial sebagai bentuk rasa tidak senang terhadap seseorang atau kelompok.
 "Menyet-nyet" lahir sebagai bentuk lelucon pedis yang menyerang personal atau kelompok, perlu teknik tingkat tinggi dan intelektual lebih sebagai sense of humournya dalam menangkap sindiran halus bukan sarkasme didalamnya.
Sebuah kata atau kalimat "menyet-nyet" akan terpenuhi unsurnya bila terus berulang baik dalam kata yang sama atau kata yg berbeda tapi ditujukan untuk subjek yang sama.
"Menyet-nyet" bisa begitu kuat dan mengena sehingga subjek yang jadi sasaran tidak berkutik atau mati kutu, jika dalam kelompok maka subjek tersebut akan seperti kucing basah, diam dan tak berkutik.
"Menyet nyet" bukan nyinyir, juga bukan caci maki, tapi salah bentuk lelucon orang Aceh dalam menyikapi hidup, karena menyet-menyet tercipta dari bentuk keprihatinan sosial.
Menjadi pribadi menyet nyet memang tidak baik tapi bukan berarti tak pantas. Menyet-nyet dalam khasanah pergaulan orang Aceh sudah menjadi sebuah kebutuhan, mengingat banyak dari kita sudah "klo prip" (ind : tuli), karena seseorang yang menjadi subjeknya sudah tak mempan lagi dinasehati dan selalu menolak kebaikan.
Orang Aceh yang dikenal tegas namun juga punya selera humor yang pedis , tegas akan sikap serta senang "menyet-nyet" kalo sudah tidak suka.

Related Posts

Berilah komentar yang bijak bukan memihak, :-)